Kondisi ekonomi Indonesia yang relatif stabil serta peran pemerintah yang memberikan kemudahan warga mempunyai rumah ataupun developer membangun rumah, membuat iklim property Indonesia menggeliat tahun 2012 ini.
"Tahun 2012 pasar property gairah optimis dan trend terus berkembang. Tapi seperti tidak secepat 2010-2011 lalu," ungkap CEO iProperty Grup Shaun Di Gregorio dalam siminar Trend Properti Terkini: Bangkitnya Kelas Menengah di Jakarta yang diadakan situs properti www.rumah123.com di Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Kondisi ini memang tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah, perbankan yang memberikan kemudahan konsumen memperoleh kredit atau developer membangun.
"Pergerakan di kalangan menengah ke bawah, banyaknya pengembang premium sekarang ke bawah. Peran pemerintah dalam properti mendorong investor luar negeri beli properti di Indonesia," katanya.
Ia mencatat, sejak 2007 perkembangan properti di Indonesia, mengalami perkembangan yang luar biasa. Juga di kawasan Asia lainnya seperti Cina, Singapura dan Hongkong bahkan di ketiga negara itu.
Ia memprediksi trend yang akan naik adalah kelas menengah ke bawah. Ini disebabkan pemerintah memberikan berbagai kemudahan untuk pangsa pasar ini.
"Kami berharap pemerintah memegang peran untuk mengurangi spekulasi dalam pasar properti," ungkap perusahaan yang tahun lalu mengakuisisi situs www.rumah123.com ini.
Sementara itu, Sales Manager Rumah123.com, Meddy H Rapinka menyatakan, demand rumah makin besar seiring dengan naiknya permintaan harga rumah diprediksikan naik setiap tahunnya.
"Tahun ini harga properti akan naik antara 5 hingga 20 persen," ungkapnya.
Mengutip trend lokasi berdasarkan situs yang dikelolanya, tidak hanya Jabodetabek yang menjadi incaran. Kini luar kota, seperti makasar, Manado, Samarinda, Pekanbaru Palembang, Pontianak mulai naik daun.
"Kota-kota tersebut perkembangannya pesat dengan makin banyaknya agen property, dan properti yang dibangun," ungkapnya.
Bagaimana dengan kawasan Jabodetabek? Meddy mencatat, sepanjang triwulan 2011, daerah kelas menengah, seperti di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan menjadi daerah yang terpopuler untuk dicari berdasarkan jumlah pencarian atau listing di situs tersebut.
Di samping itu, yang mendominasi untuk pencarian properti adalah Bekasi, Depok dan kawasan Bumi Serpong Damai (BSD).
Untuk kelas atas, permintaan rumah di pusat atau dekat perkotaan yang nampak menonjol adalah di kawasan Pondok Indah, Kebun Jeruk dan Tebet masih menjadi incaran dan bisa dikatakan permintaannya meningkat pesat.
Penulis: Eko Sutriyanto | Editor: Dewi Agustina
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/02/08/trend-properti-tahun-ini-terus-meningkat
Kartun benny
semua
- buku favorit (19)
- Customer Service (2)
- Manajemen (7)
- Motivasi (2)
- Properti (5)
- Wirausaha (3)
Tampilkan postingan dengan label Properti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Properti. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Mei 2012
Tiga Alasan Properti Indonesia Terbaik di Dunia
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan alias BI rate hingga level terendah pada November 2011 lalu akan menjadi bahan bakar penggerak bisnis properti di Tanah Air. Dengan BI rate hanya 6%, banyak pihak memperkirakan, pasar properti di Indonesia bakal booming tahun ini.
Prospek investasi di sektor ini pun kian memikat. Pengamat properti menilai, investasi properti di negara kita memang semakin menarik.
Panangian Simanungkalit, pengamat properti sekaligus pemilik Panangian School of Property, bahkan menilai, investasi properti di Indonesia merupakan satu-satunya paling menguntungkan di dunia. Ada tiga alasan mengapa prospek bisnis properti Indonesia jadi yang terbaik di dunia. Pertama, masih ada 14 juta dari 61 juta keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah.
Kedua, pemerintah semakin kesulitan menyediakan rumah bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Tengok saja, permintaan rumah mencapai 900.000 unit per tahun, sementara pasokan hunian hanya 80.000 unit dalam setahun.
Ketiga, semua segmen pasar properti di Tanah Air terbuka luas sebagai investasi, termasuk pasar kelas paling bawah. Sedangkan di luar negeri, bisnis properti untuk pasar kelas menengah ke bawah tertutup untuk pengembang dan investor.
"Sebab, pasokan properti kelas menengah ke bawah dikendalikan oleh pemerintah negara itu," ujar Panangian.
Meski sempat mengalami pasang surut, bisnis properti kembali dilirik pasca krisis ekonomi 2008 lalu. Karena itu, di 2011, pertumbuhan properti tercatat lumayan tinggi.
"Baik permintaan maupun pertumbuhan harga di semua sektor properti meningkat cukup tinggi," ungkap Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle.
Menurut Anton, properti komersial dan kawasan industri mencetak pertumbuhan penjualan tertinggi selama 2011. Pertumbuhan penjualan lahan industri naik hampir tiga kali lipat. Adapun properti sektor komersial meningkat dua kali lipat. Lalu, penjualan residensial naik sekitar 50%.
Justini Omas, Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land juga mengakui, pasar properti memang cukup bergairah tahun lalu. Sepanjang 2011, penjualan Agung Podomoro Land mencapai Rp 4,2 triliun. Pencapaian ini melampaui target penjualan mereka yang hanya sebesar Rp 3,5 triliun.
Ali Hanafia, pengamat properti, tak terlalu kaget melihat gairah bisnis properti tahun lalu. Maklum, sebelumnya, ia sudah memprediksi, harga properti akan mengalami kenaikan cukup tinggi.
"Ini yang membuat para investor mendulang keuntungan yang luar biasa signifikan, bahkan sampai 100% dalam tempo kurang dari satu tahun," beber Ali. (Herry Prasetyo)
sumber : http://properti.kompas.com/read/2012/01/20/1454153/Tiga.Alasan.Properti.Indonesia.Terbaik.di.Dunia
Prospek investasi di sektor ini pun kian memikat. Pengamat properti menilai, investasi properti di negara kita memang semakin menarik.
Panangian Simanungkalit, pengamat properti sekaligus pemilik Panangian School of Property, bahkan menilai, investasi properti di Indonesia merupakan satu-satunya paling menguntungkan di dunia. Ada tiga alasan mengapa prospek bisnis properti Indonesia jadi yang terbaik di dunia. Pertama, masih ada 14 juta dari 61 juta keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah.
Kedua, pemerintah semakin kesulitan menyediakan rumah bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Tengok saja, permintaan rumah mencapai 900.000 unit per tahun, sementara pasokan hunian hanya 80.000 unit dalam setahun.
Ketiga, semua segmen pasar properti di Tanah Air terbuka luas sebagai investasi, termasuk pasar kelas paling bawah. Sedangkan di luar negeri, bisnis properti untuk pasar kelas menengah ke bawah tertutup untuk pengembang dan investor.
"Sebab, pasokan properti kelas menengah ke bawah dikendalikan oleh pemerintah negara itu," ujar Panangian.
Meski sempat mengalami pasang surut, bisnis properti kembali dilirik pasca krisis ekonomi 2008 lalu. Karena itu, di 2011, pertumbuhan properti tercatat lumayan tinggi.
"Baik permintaan maupun pertumbuhan harga di semua sektor properti meningkat cukup tinggi," ungkap Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle.
Menurut Anton, properti komersial dan kawasan industri mencetak pertumbuhan penjualan tertinggi selama 2011. Pertumbuhan penjualan lahan industri naik hampir tiga kali lipat. Adapun properti sektor komersial meningkat dua kali lipat. Lalu, penjualan residensial naik sekitar 50%.
Justini Omas, Sekretaris Perusahaan Agung Podomoro Land juga mengakui, pasar properti memang cukup bergairah tahun lalu. Sepanjang 2011, penjualan Agung Podomoro Land mencapai Rp 4,2 triliun. Pencapaian ini melampaui target penjualan mereka yang hanya sebesar Rp 3,5 triliun.
Ali Hanafia, pengamat properti, tak terlalu kaget melihat gairah bisnis properti tahun lalu. Maklum, sebelumnya, ia sudah memprediksi, harga properti akan mengalami kenaikan cukup tinggi.
"Ini yang membuat para investor mendulang keuntungan yang luar biasa signifikan, bahkan sampai 100% dalam tempo kurang dari satu tahun," beber Ali. (Herry Prasetyo)
sumber : http://properti.kompas.com/read/2012/01/20/1454153/Tiga.Alasan.Properti.Indonesia.Terbaik.di.Dunia
MEMPROYEKSIKAN PERKEMBANGAN INDUSTRI PROPERTI
Tahun ini perkiraan permintaan properti super mewah yang dibeli oleh orang-orang terkaya bakal melonjak. Faktor krisis AS dan Eropa tak memberikan pengaruh terhadap minat orang-orang terkaya menanamkan uangnya di properti mewah.
Knight Frank dan Citi Private Banking memperkirakan jumlah permintaan dari orang-orang superkaya dunia atas properti komersial akan terus tumbuh dengan perkiraan jumlah transaksi dunia akan mencapai USD74,1 miliar pada 2012 atau naik 5%. Itulah keterangan tertulis Knight Frank yang diberitakan belum lama ini (3/4).
Laporan Knight Frank menyebutkan meskipun terjadi resesi di seluruh Eropa, namun beberapa lokasi penting properti mewah di Eropa masih menunjukan permintaan yang tinggi. Hal ini karena banyak faktor yang memengaruhi para orang kaya dunia tersebut tetap membeli properti mewah.
Gaya hidup dan motif investasi masih menjadi alasan utama mereka, rata-rata rumah-rumah itu merupakan rumah kedua. Misalnya dari survei, dari 16% dari orang kaya yang disurvei memiliki rumah kedua. Sebanyak 40% punya rumah kedua dengan lokasi pinggir pantai di antaranya di Inggris dan AS.
Investasi properti mewah menjadi porsi utama dari aset portofolio investasi pada tahun 2011 lalu menunjukkan kenaikan alokasi global terhadap investasi untuk real estate sebesar 19%. Lantas, bagaimana prospek sektor properti ini di Indonesia?.
Salah satu “kendala” yang bakal dihadapi kalangan pengusaha properti nasional adalah beleid yang belum lama ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yakni Down-Payment (DP atau tanda jadi) untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Indonesia. Dengan pengetatan persyaratan pengajuan KPR, banyak pihak menilai aturan ini akan menekan permintaan properti, khususnya perumahan.
Namun fakta di lapangan ternyata tidak demikian. Peraturan baru BI mengenai pengetatan kredit antara lain terhadap persyaratan pengucuran KPR dinilai oleh para pelaku usaha properti tidak akan berimplikasi negatif terhadap perkembangan sektor properti di Indonesia.
Mereka tidak melihat implikasi negatif terhadap peraturan baru mengenai besaran Loan To Value (LTV) yang dikeluarkan oleh BI. Dengan demikian, tidak akan terdapat banyak perubahan terhadap perkembangan sektor properti di Indonesia pada 2012. Apalagi seperti pemilik untuk kondominium atau apartemen kelas atas, para pembelinya lebih banyak membeli properti dengan menggunakan uang tunai baik secara bertahap atau secara langsung dan sedikit yang menggunakan KPR.
Alasan yang lain, peraturan BI terkait LTV tidak akan berpengaruh terhadap sektor properti karena besaran uang muka yang ditetapkan minimal adalah 30%. Selama ini bank telah menetapkan rata-rata 20% untuk uang muka, sehingga perbedaannya sedikit atau tidak terlalu memberatkan konsumen.
Sektor yang lebih akan berdampak adalah sektor pembiayaan otomotif atau kendaraan bermotor yang selama ini bisa diperoleh dengan uang muka hingga sebesar nol persen. Konsumen inilah yang jauh lebih sensitif terhadap perobahan DP atau LTV untuk kredit kendaraan bermotor.
Sebelumnya, BI mengeluarkan peraturan baru mengenai besaran LTV untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan uang muka untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Menurut BI, aturan itu dikeluarkan untuk meningkatkan kehati-hatian bank dalam pemberian KPR dan KKB serta untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan.
Ketentuan ini tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor.
Rasio LTV adalah angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit, dan ditetapkan maksimal 70%. Ruang lingkup KPR yang dimaksud meliputi kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen namun tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari tujuh puluh meter persegi.
Beleid baru dari BI terseebut kemungkinan juga tidak akan menjadi kendala serius untuk pengembangan properti di beberapa daerah yang menunjukkan signal pertumbuhan yang baik. Ini lantaran potensi pengembangan properti di Jakarta dan Bali masih sangat tinggi, dan peningkatan status peringkat Indonesia menjadi “Investment Grade” (Layak Investasi) menjadi salah satu faktor utama pemacunya.
Investasi di sektor properti di dua kota besar Indonesia ini masih sangat tinggi. Sampai akhir tahun ini, pertumbuhan propertinya diperkirakan bakal mencapai 15%-20%. Harga lahan di Jakarta dan Bali masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kota-kota besar di dunia. Kondisi ini juga menjadi faktor penting bagi pertumbuhan properti di kedua kota tersebut.
Harga tanah di Jakarta sekitar USD2.900 (Rp26 juta) per meter persegi jauh lebih murah di bandingkan Monaco yang harganya mencapai USD58.300 (Rp535 juta) per meter persegi. Kondisi tersebut merupakan salah satu pemacu pertumbuhan di sektor properti di Jakarta.
Lebih lanjut, investor juga melihat Jakarta sebagai barometer perekonomian di Indonesia. Selain itu, stabilitas sosial politik merupakan kunci utama untuk berinvestasi di sektor properti. Dibandingkan dengan Thailand, stabilitas sosial politik di Indonesia jauh lebih kondusif. Untuk masalah transportasi juga sangat menunjang, walaupun masih ada beberapa yang harus diperbaiki.
Sektor properti di Bali juga diminati oleh pihak asing, pasalnya banyak obyek wisata yang menarik di Pulau Dewata itu. Indikator peningkatan properti di Bali dapat dilihat dari minat pihak asing yang banyak membeli vila. Kebanyakan investor di Bali berasal dari Australia, Singapura, Malaysia, Inggris dan Jerman.
Yang juga menarik, konon sektor properti, baik dalam aspek pasokan maupun permintaan, tidak dipengaruhi secara langsung oleh penundaan ataupun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang diperkirakan akan tetap dapat terealisasikan pada tahun 2012 ini. Ini dikarenakan profil konsumen properti di Indonesia tergolong ke dalam kelas menengah ke atas dengan daya beli yang kuat dan stabil.
Pada saat itu warga masyarakat juga dinilai akan telah terbiasa dengan harga BBM bersubsidi baru yang telah ditetapkan sehingga pengaruh itu dapat dianggap wajar. Maklum, sebenarnya aspek yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi adalah daya beli masyarakat level bawah.
Jadi bila mereka berencana ingin membeli rumah tahun ini, tetapi ternyata ada kenaikan harga BBM bersubsidi, maka mereka bisa saja menunda rencana pembelian properti karena pengeluaran lebih didahulukan untuk kebutuhan sehari-hari yang diperkirakan akan naik seiring kenaikan harga BBM bersubsidi.
Untuk sektor properti perkantoran, diperkirakan juga tidak akan ada pengaruhnya meski terdapat kenaikan biaya sewa karena biaya untuk membayar perkantoran otomatis telah menjadi bagian dari kebutuhan perusahaan dan bukan pengeluaran pribadi pemilik.
Secara umum, pertumbuhan pasar properti dalam negeri belakangan ini tidak lepas dari membaiknya fundamental perekonomian Indonesia serta menguatnya sentimen investor termasuk dari luar negeri terhadap iklim investasi di Tanah Air. Apalagi, dengan kondisi seperti sekarang ini di mana Eropa dan AS masih fokus pada usaha untuk keluar dari krisis sehingga banyak investor internasional yang mencari pasar alternatif.
Indonesia merupakan salah satu pilihan yang menarik apalagi sejak diraihnya status investment grade baru-baru ini. Oleh karena itu, pasar properti di Indonesia ke depan juga masih akan terus menunjukkan pertumbuhan yang menarik dan sangat berpotensi untuk menjadi pilihan investasi yang menguntungkan.
sumber : http://www.businessnews.co.id/ekonomi-bisnis/memproyeksikan-perkembangan-industri-properti.php
Knight Frank dan Citi Private Banking memperkirakan jumlah permintaan dari orang-orang superkaya dunia atas properti komersial akan terus tumbuh dengan perkiraan jumlah transaksi dunia akan mencapai USD74,1 miliar pada 2012 atau naik 5%. Itulah keterangan tertulis Knight Frank yang diberitakan belum lama ini (3/4).
Laporan Knight Frank menyebutkan meskipun terjadi resesi di seluruh Eropa, namun beberapa lokasi penting properti mewah di Eropa masih menunjukan permintaan yang tinggi. Hal ini karena banyak faktor yang memengaruhi para orang kaya dunia tersebut tetap membeli properti mewah.
Gaya hidup dan motif investasi masih menjadi alasan utama mereka, rata-rata rumah-rumah itu merupakan rumah kedua. Misalnya dari survei, dari 16% dari orang kaya yang disurvei memiliki rumah kedua. Sebanyak 40% punya rumah kedua dengan lokasi pinggir pantai di antaranya di Inggris dan AS.
Investasi properti mewah menjadi porsi utama dari aset portofolio investasi pada tahun 2011 lalu menunjukkan kenaikan alokasi global terhadap investasi untuk real estate sebesar 19%. Lantas, bagaimana prospek sektor properti ini di Indonesia?.
Salah satu “kendala” yang bakal dihadapi kalangan pengusaha properti nasional adalah beleid yang belum lama ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yakni Down-Payment (DP atau tanda jadi) untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Indonesia. Dengan pengetatan persyaratan pengajuan KPR, banyak pihak menilai aturan ini akan menekan permintaan properti, khususnya perumahan.
Namun fakta di lapangan ternyata tidak demikian. Peraturan baru BI mengenai pengetatan kredit antara lain terhadap persyaratan pengucuran KPR dinilai oleh para pelaku usaha properti tidak akan berimplikasi negatif terhadap perkembangan sektor properti di Indonesia.
Mereka tidak melihat implikasi negatif terhadap peraturan baru mengenai besaran Loan To Value (LTV) yang dikeluarkan oleh BI. Dengan demikian, tidak akan terdapat banyak perubahan terhadap perkembangan sektor properti di Indonesia pada 2012. Apalagi seperti pemilik untuk kondominium atau apartemen kelas atas, para pembelinya lebih banyak membeli properti dengan menggunakan uang tunai baik secara bertahap atau secara langsung dan sedikit yang menggunakan KPR.
Alasan yang lain, peraturan BI terkait LTV tidak akan berpengaruh terhadap sektor properti karena besaran uang muka yang ditetapkan minimal adalah 30%. Selama ini bank telah menetapkan rata-rata 20% untuk uang muka, sehingga perbedaannya sedikit atau tidak terlalu memberatkan konsumen.
Sektor yang lebih akan berdampak adalah sektor pembiayaan otomotif atau kendaraan bermotor yang selama ini bisa diperoleh dengan uang muka hingga sebesar nol persen. Konsumen inilah yang jauh lebih sensitif terhadap perobahan DP atau LTV untuk kredit kendaraan bermotor.
Sebelumnya, BI mengeluarkan peraturan baru mengenai besaran LTV untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan uang muka untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Menurut BI, aturan itu dikeluarkan untuk meningkatkan kehati-hatian bank dalam pemberian KPR dan KKB serta untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan.
Ketentuan ini tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 14/10/DPNP tanggal 15 Maret 2012 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor.
Rasio LTV adalah angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit, dan ditetapkan maksimal 70%. Ruang lingkup KPR yang dimaksud meliputi kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen namun tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari tujuh puluh meter persegi.
Beleid baru dari BI terseebut kemungkinan juga tidak akan menjadi kendala serius untuk pengembangan properti di beberapa daerah yang menunjukkan signal pertumbuhan yang baik. Ini lantaran potensi pengembangan properti di Jakarta dan Bali masih sangat tinggi, dan peningkatan status peringkat Indonesia menjadi “Investment Grade” (Layak Investasi) menjadi salah satu faktor utama pemacunya.
Investasi di sektor properti di dua kota besar Indonesia ini masih sangat tinggi. Sampai akhir tahun ini, pertumbuhan propertinya diperkirakan bakal mencapai 15%-20%. Harga lahan di Jakarta dan Bali masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kota-kota besar di dunia. Kondisi ini juga menjadi faktor penting bagi pertumbuhan properti di kedua kota tersebut.
Harga tanah di Jakarta sekitar USD2.900 (Rp26 juta) per meter persegi jauh lebih murah di bandingkan Monaco yang harganya mencapai USD58.300 (Rp535 juta) per meter persegi. Kondisi tersebut merupakan salah satu pemacu pertumbuhan di sektor properti di Jakarta.
Lebih lanjut, investor juga melihat Jakarta sebagai barometer perekonomian di Indonesia. Selain itu, stabilitas sosial politik merupakan kunci utama untuk berinvestasi di sektor properti. Dibandingkan dengan Thailand, stabilitas sosial politik di Indonesia jauh lebih kondusif. Untuk masalah transportasi juga sangat menunjang, walaupun masih ada beberapa yang harus diperbaiki.
Sektor properti di Bali juga diminati oleh pihak asing, pasalnya banyak obyek wisata yang menarik di Pulau Dewata itu. Indikator peningkatan properti di Bali dapat dilihat dari minat pihak asing yang banyak membeli vila. Kebanyakan investor di Bali berasal dari Australia, Singapura, Malaysia, Inggris dan Jerman.
Yang juga menarik, konon sektor properti, baik dalam aspek pasokan maupun permintaan, tidak dipengaruhi secara langsung oleh penundaan ataupun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang diperkirakan akan tetap dapat terealisasikan pada tahun 2012 ini. Ini dikarenakan profil konsumen properti di Indonesia tergolong ke dalam kelas menengah ke atas dengan daya beli yang kuat dan stabil.
Pada saat itu warga masyarakat juga dinilai akan telah terbiasa dengan harga BBM bersubsidi baru yang telah ditetapkan sehingga pengaruh itu dapat dianggap wajar. Maklum, sebenarnya aspek yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi adalah daya beli masyarakat level bawah.
Jadi bila mereka berencana ingin membeli rumah tahun ini, tetapi ternyata ada kenaikan harga BBM bersubsidi, maka mereka bisa saja menunda rencana pembelian properti karena pengeluaran lebih didahulukan untuk kebutuhan sehari-hari yang diperkirakan akan naik seiring kenaikan harga BBM bersubsidi.
Untuk sektor properti perkantoran, diperkirakan juga tidak akan ada pengaruhnya meski terdapat kenaikan biaya sewa karena biaya untuk membayar perkantoran otomatis telah menjadi bagian dari kebutuhan perusahaan dan bukan pengeluaran pribadi pemilik.
Secara umum, pertumbuhan pasar properti dalam negeri belakangan ini tidak lepas dari membaiknya fundamental perekonomian Indonesia serta menguatnya sentimen investor termasuk dari luar negeri terhadap iklim investasi di Tanah Air. Apalagi, dengan kondisi seperti sekarang ini di mana Eropa dan AS masih fokus pada usaha untuk keluar dari krisis sehingga banyak investor internasional yang mencari pasar alternatif.
Indonesia merupakan salah satu pilihan yang menarik apalagi sejak diraihnya status investment grade baru-baru ini. Oleh karena itu, pasar properti di Indonesia ke depan juga masih akan terus menunjukkan pertumbuhan yang menarik dan sangat berpotensi untuk menjadi pilihan investasi yang menguntungkan.
sumber : http://www.businessnews.co.id/ekonomi-bisnis/memproyeksikan-perkembangan-industri-properti.php
Kelas Menengah Jadi Tren Properti Indonesia
Nur Januarita Benu - Okezone
JAKARTA - Pasar properti di Indonesia memang sedang dalam masa subur. Dapat dilihat dari ekonomi dalam negeri bertumbuh baik dan cenderung stabil dan ditunjang suku bunga yang menurun, mendorong pertumbuhan pasar properti.
Demikian diutarakan CEO iproperty Group Shaun Di Gregario.
Menurutnya saat ini Asia Tenggara khususnya memang sedang menjadi primadona dalam target investasi properti.
"Indonesia memang kondisi ekonominya saat ini sedang kuat, tidak terpengaruh dengan krisis Eropa. Kami melihat peningkatan harga properti dari 2010 hingga 2012 kemarin meningkat 40-60 persen," kata Shaun Di Gregorio saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Lebih lanjut Shaun menjelaskan, mengenai tren properti Indonesia saat ini yang lebih banyak menyasar pada kelas menengah.
Hal ini juga diamini oleh Sales Manager Rumah123 Meddy H Papinka yang menyatakan dominasi kelas menengah dalam pasar properti saat ini.
"Banyak masyarakat yang mencari rumah pada situs kami, dengan rata-rata harga rumah yang terdapat pada listing berkisar Rp400-500 juta," papar Meddy.
Lebih lanjut Meddy menyebutkan, terdapat lima kunci utama bangkitnya kelas menengah yang ditandai dengan:
1. 5 daerah yang palingg diincar dan menjadi permintaan masyarakat kelas menengah adalah daerah sub-urban.
2. Volume total jumlah pencari properti pada situs online, meningkat sebesar 25 persen.
3. Pemerintah memberi dukungan bagi masyarakat untuk kepemilikan rumah dengan meluncurkan berbagai program.
4. Para pengembang menyediakan properti untuk kelas menengah secara merata di seluruh Indonesia.
5. Munculnya agen-agen properti baru, lebih aktif memasarkan daerah urban.
Shaun Di Gregario juga memprediksikan 2012 pasar properti Indonesia akan tumbuh semakin baik. Investor juga semakin banyak yang tertarik untuk menanamkan modalnya di sini.
Sumber : http://property.okezone.com/read/2012/02/08/471/571758/kelas-menengah-jadi-tren-properti-indonesia
JAKARTA - Pasar properti di Indonesia memang sedang dalam masa subur. Dapat dilihat dari ekonomi dalam negeri bertumbuh baik dan cenderung stabil dan ditunjang suku bunga yang menurun, mendorong pertumbuhan pasar properti.
Demikian diutarakan CEO iproperty Group Shaun Di Gregario.
Menurutnya saat ini Asia Tenggara khususnya memang sedang menjadi primadona dalam target investasi properti.
"Indonesia memang kondisi ekonominya saat ini sedang kuat, tidak terpengaruh dengan krisis Eropa. Kami melihat peningkatan harga properti dari 2010 hingga 2012 kemarin meningkat 40-60 persen," kata Shaun Di Gregorio saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Lebih lanjut Shaun menjelaskan, mengenai tren properti Indonesia saat ini yang lebih banyak menyasar pada kelas menengah.
Hal ini juga diamini oleh Sales Manager Rumah123 Meddy H Papinka yang menyatakan dominasi kelas menengah dalam pasar properti saat ini.
"Banyak masyarakat yang mencari rumah pada situs kami, dengan rata-rata harga rumah yang terdapat pada listing berkisar Rp400-500 juta," papar Meddy.
Lebih lanjut Meddy menyebutkan, terdapat lima kunci utama bangkitnya kelas menengah yang ditandai dengan:
1. 5 daerah yang palingg diincar dan menjadi permintaan masyarakat kelas menengah adalah daerah sub-urban.
2. Volume total jumlah pencari properti pada situs online, meningkat sebesar 25 persen.
3. Pemerintah memberi dukungan bagi masyarakat untuk kepemilikan rumah dengan meluncurkan berbagai program.
4. Para pengembang menyediakan properti untuk kelas menengah secara merata di seluruh Indonesia.
5. Munculnya agen-agen properti baru, lebih aktif memasarkan daerah urban.
Shaun Di Gregario juga memprediksikan 2012 pasar properti Indonesia akan tumbuh semakin baik. Investor juga semakin banyak yang tertarik untuk menanamkan modalnya di sini.
Sumber : http://property.okezone.com/read/2012/02/08/471/571758/kelas-menengah-jadi-tren-properti-indonesia
Ingin Mengepung Kawasan Bintaro dan BSD
Kawasan Bintaro dan Bumi Serpong Damai merupakan coverage area agent property satu ini. Memiliki banyak kantor agent di berbagai wilayah merupakan kekuatannya
Perkembangan properti di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) terbilang cukup cerah. Mereka yang bermain di sini merupakan developer besar. Otomatis pertumbuhannya terus berkembang pesat. Ini terlihat dari banyaknya Cluster-cluster baru serta bangunan lainnya bermunculan dan tumbuh begitu cepat.
Dengan begitu, adanya rumah baru juga berdampak pada perputaran bisnis property secondary. Bersamaan dengan itu, para pelaku pebisnis broker juga ikut berkembang. Hal ini, ternyata disambut baik oleh mereka (agent property), karena listing property bermunculan dengan sendirinya.
Dengan demikian, Champion 1 Property salah satu agent property berusaha hadir meramaikan pasar secondary. Menurut Ade Untung Ciptono President Director, Champion 1 Property sudah ada di Bumi Serpong Damai (BSD) sejak 2007 akhir. Saat ini, The Champion sendiri juga sudah membuka kantornya di Granada Square. Hingga akhir tahun 2011 ini akan ada lima kantor keseluruhannya.
Banyaknya kantor agent property yang mengepung BSD, bagi The Champion tidak dijadikan sebuah persaingan. Justu dijadikan jaringan dan tantangan bisnis. Karena agent satu ini yakin akan menjadi juara di area Bintaro dan BSD. “Saya memang fokus di area ini, karena pangsa pasar di BSD sendiri terbilang besar,” ucapnya.
“Untuk di internal, saya menanamkan kebersamaan. Karena ini merupakan satu keluarga besar. Dengan sistem kekeluargaan ini, kerja jadi lebih nyaman dan produktifitas pun akan jadi lebih baik,” ungkap Ade.
“Salah satu keunggulan lainnya, kami memiliki tim yang solid. Dari empat kantor cabang, marketing yang bergabung hingga sekarang sudah sebanyak 65 orang. Mereka merupakan kekuatan bagi Champion 1 Property,” ucapnya.
“Bisnis itu harus dijalankan dengan fokus. Kami memprioritaskan untuk memasarkan pasar properti secondary di area Bintaro dan BSD. Karena pasar itu cukup bagus,” jelaskan Ade. “Selain itu, kami juga menjual hunian baru. Karena sebagian besar marketing saya berhasil bermain di pangsa pasar itu,” menambahkan.
“Agar bisnis ini terus berjalan, saya memiliki tiga kunci keberhasilan, salah satunya adalah menanamkan kepercayaan. Karena bisnis ini merupakan bisnis kepercayaan. Bahwa kita mampu memenuhi kebutuhan properti konsumen yaitu penjual dan pembeli,” ujar Ade.
“Selanjutnya adalah kejujuran, dengan itu konsumen merasa aman menitipkan propertinya kepada kami untuk di jual. Etika dijaga, maka bisnis ini akan berjalan dengan baik,” terangkannya.
“Berikutnya membentuk jaringan, dengan listing banyak, kita dapat berpromosi kuat lewat media online seperti Rumah123.com. Secara langsung, pembeli pun akan datang dan menghubungi kami. Saya selalu memberi fasilitas kepada marketing untuk beriklan di Rumah123.com,” tegaskan Bapak tiga anak ini.
“Kunci terakhir adalah sistem pelayanannya. Kalau service yang kami berikan bagus, otomatis konsumen itu akan mencari kami kembali. Mengedapankan professionalisme terhadap penyajian yang maksimal kami jadi kekuatan,” uraikan Ade.
“Keinginan kuat saya dengan 65 marketing, mereka dapat sukses di bidang ini. Misi selanjutnya, ini saya akan jadikan franchise. Selain memiliki jaringan bisnis yang luas. Bentuk service yang kami berikan jadi jauh lebih bagus,” berangan-angan.
Harga properti yang ditawarkan melalui agent ini berkisar mulai dari 300 jutaan hingga 5 miliar rupiah. “Alasan membuka di BSD, karena pangsa pasar di sini beragam. Semua segmentasi ada,” paparnya. “Kami pernah melakukan transaksi sebesar 7 miliar rupiah. Bahkan ketika properti booming sempat 20 miliar,” ucapnya bangga.
“Cita-cita saya pribadi, ingin menjadi pengembang perumahan, seperti town house. Jadi, selain Champion 1 Property, saya juga konsentrasi membangun rumah. Saya punya produk properti sendiri, didukung oleh marketing yang kuat,” tegasnya.
Ade juga mengatakan akan ketertarikan berekspansi ke wilayah Depok, Cinere dan Cibubur. Melihat pasar properti di area tersebut tidak berbeda dengan BSD. “Hanya saja, mungkin untuk selanjutnya akan saya buatkan franchise. Agar pengelolaannya dapat terbentuk rapi,” ungkapnya sembari tersenyum.
Naskah dan foto : Dedy Mulyadi
sumber : http://republika.rumah123.com/detil-berita-properti/1141
Perkembangan properti di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) terbilang cukup cerah. Mereka yang bermain di sini merupakan developer besar. Otomatis pertumbuhannya terus berkembang pesat. Ini terlihat dari banyaknya Cluster-cluster baru serta bangunan lainnya bermunculan dan tumbuh begitu cepat.
Dengan begitu, adanya rumah baru juga berdampak pada perputaran bisnis property secondary. Bersamaan dengan itu, para pelaku pebisnis broker juga ikut berkembang. Hal ini, ternyata disambut baik oleh mereka (agent property), karena listing property bermunculan dengan sendirinya.
Dengan demikian, Champion 1 Property salah satu agent property berusaha hadir meramaikan pasar secondary. Menurut Ade Untung Ciptono President Director, Champion 1 Property sudah ada di Bumi Serpong Damai (BSD) sejak 2007 akhir. Saat ini, The Champion sendiri juga sudah membuka kantornya di Granada Square. Hingga akhir tahun 2011 ini akan ada lima kantor keseluruhannya.
Banyaknya kantor agent property yang mengepung BSD, bagi The Champion tidak dijadikan sebuah persaingan. Justu dijadikan jaringan dan tantangan bisnis. Karena agent satu ini yakin akan menjadi juara di area Bintaro dan BSD. “Saya memang fokus di area ini, karena pangsa pasar di BSD sendiri terbilang besar,” ucapnya.
“Untuk di internal, saya menanamkan kebersamaan. Karena ini merupakan satu keluarga besar. Dengan sistem kekeluargaan ini, kerja jadi lebih nyaman dan produktifitas pun akan jadi lebih baik,” ungkap Ade.
“Salah satu keunggulan lainnya, kami memiliki tim yang solid. Dari empat kantor cabang, marketing yang bergabung hingga sekarang sudah sebanyak 65 orang. Mereka merupakan kekuatan bagi Champion 1 Property,” ucapnya.
“Bisnis itu harus dijalankan dengan fokus. Kami memprioritaskan untuk memasarkan pasar properti secondary di area Bintaro dan BSD. Karena pasar itu cukup bagus,” jelaskan Ade. “Selain itu, kami juga menjual hunian baru. Karena sebagian besar marketing saya berhasil bermain di pangsa pasar itu,” menambahkan.
“Agar bisnis ini terus berjalan, saya memiliki tiga kunci keberhasilan, salah satunya adalah menanamkan kepercayaan. Karena bisnis ini merupakan bisnis kepercayaan. Bahwa kita mampu memenuhi kebutuhan properti konsumen yaitu penjual dan pembeli,” ujar Ade.
“Selanjutnya adalah kejujuran, dengan itu konsumen merasa aman menitipkan propertinya kepada kami untuk di jual. Etika dijaga, maka bisnis ini akan berjalan dengan baik,” terangkannya.
“Berikutnya membentuk jaringan, dengan listing banyak, kita dapat berpromosi kuat lewat media online seperti Rumah123.com. Secara langsung, pembeli pun akan datang dan menghubungi kami. Saya selalu memberi fasilitas kepada marketing untuk beriklan di Rumah123.com,” tegaskan Bapak tiga anak ini.
“Kunci terakhir adalah sistem pelayanannya. Kalau service yang kami berikan bagus, otomatis konsumen itu akan mencari kami kembali. Mengedapankan professionalisme terhadap penyajian yang maksimal kami jadi kekuatan,” uraikan Ade.
“Keinginan kuat saya dengan 65 marketing, mereka dapat sukses di bidang ini. Misi selanjutnya, ini saya akan jadikan franchise. Selain memiliki jaringan bisnis yang luas. Bentuk service yang kami berikan jadi jauh lebih bagus,” berangan-angan.
Harga properti yang ditawarkan melalui agent ini berkisar mulai dari 300 jutaan hingga 5 miliar rupiah. “Alasan membuka di BSD, karena pangsa pasar di sini beragam. Semua segmentasi ada,” paparnya. “Kami pernah melakukan transaksi sebesar 7 miliar rupiah. Bahkan ketika properti booming sempat 20 miliar,” ucapnya bangga.
“Cita-cita saya pribadi, ingin menjadi pengembang perumahan, seperti town house. Jadi, selain Champion 1 Property, saya juga konsentrasi membangun rumah. Saya punya produk properti sendiri, didukung oleh marketing yang kuat,” tegasnya.
Ade juga mengatakan akan ketertarikan berekspansi ke wilayah Depok, Cinere dan Cibubur. Melihat pasar properti di area tersebut tidak berbeda dengan BSD. “Hanya saja, mungkin untuk selanjutnya akan saya buatkan franchise. Agar pengelolaannya dapat terbentuk rapi,” ungkapnya sembari tersenyum.
Naskah dan foto : Dedy Mulyadi
sumber : http://republika.rumah123.com/detil-berita-properti/1141
Langganan:
Postingan (Atom)